Kamis, 05 Juni 2014

Hypercorrect Penulisan “In Sha Allah”




Mungkin agak ketinggalan ya, tapi saya gatal untuk menulis catatan ini karena belakangan ramai sebagian teman mengganti penulisan frasa "insya Allah" dengan "in sha Allah". Alasannya, 'insya Allah' dianggap berarti 'menciptakan Allah'. Mereka mengganti frasa tersebut karena membaca pesan viral di sosial media, baik facebook, whatsapp, blackberry messenger, twitter, dan lain-lain. Konon, pesan berantai itu berasal dari dr.Abdul Karim Naik,
da'i terkenal asal India yg digadang-gadang merupakan pengganti kristolog moncer sedunia, almarhum Syaikh Ahmad Deedat.

Padahal, validitas bahwa pesan tersebut berasal dari dr.Zakir Naik pun perlu kita ragukan (sila lihat gambar). Dan perlu kita ketahui bahwa Penulisan lafadz  إِنْ شَاءَ اللّهُ menjadi "in sha Allah" dalam bahasa Indonesia justru merupakan sebuah  Hypercorrect /hiperkorek. Bagaimana alurnya? mari kita urun rembug bersama.


What is hypercorrect?

Hiperkorek dalam Kamus Basar Bahasa Indonesia didefinisikan sbb:

hi·per·ko·rek /hiperkorék/ a bersifat menghendaki kerapian dan kesempurnaan yg sangat berlebihan sehingga hasilnya malah menjadi sebaliknya; (hiper sendiri artinya ‘berlebihan’). Hiperkorek bisa diartikan pula sebagai kesalahan berbahasa karena “membetulkan” bentuk yang sudah benar sehingga menjadi salah.

Sederhananya, hiperkorek adalah koreksi berlebihan alias membetulkan secara lebay.

Contoh, penulisan ‘surga’ yang lazim dan sudah benar, dianggap salah, kemudian diganti menjadi 'syurga' karena dikira berasal dari bahasa Arab. Padahal kata ‘surga’ berasal dari bahasa Sanskerta (svarga, स्वर्ग, ‘kayangan’) yakni suatu tempat di alam akhirat yang dipercaya oleh para penganut beberapa agama sebagai tempat berkumpulnya manusia yang semasa hidup di dunia berbuat kebajikan sesuai ajaran agamanya (wikipedia).

Karena dikira berasal dari bahasa Arab, kata ‘Surga’ diganti menjadi ‘Syurga’ dengan asumsi berawalan huruf ‘syin’ (ﺵ) yang justru menjadi keliru karena 'Surga' dalam bahasa Arab disebut “jannah” (جنّة), jauh sekali dari kata ‘surga’

Demikian pula, kesalahan serupa terjadi pada penulisan frasa ‘insya Allah’ yang belakangan  “dibetulkan” menjadi ‘in sha Allah’.

Dalam  bahasa Arab, lafadz  إِنْ شَاءَ اللّهُ  tersusun dari tiga kata:

“in, Syaa-a, Allah” terdiri dari (إِنْ) yang artinya “Jika”, ( شَاءَ ) yang artinya “Dia berkehendak”,  dan  Allah. Secara bebas tiga kata ini dapat kita terjemahkan menjadi “Jika Allah berkehendak”. Dimaksudkan bahwa segala rencana kita hanya akan terlaksana jika Allah menghendakinya, sebuah keyakinan totalitas bahwa Tuhan Maha Berkuasa di atas segala rencana manusia. Hal ini didasarkan pada sebuah ayat dalam al-Qur'an Surah al-Kahfi ayat 23:


“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,’ tanpa (dengan menyebut), ‘Insya Allah.’” [Al-Kahfi: 23].”


Namun Jika kata tersebut disambung menjadi ( إِنْشَاءَ ) dengan nun dan syin menempel, maka  insyaa-a ia akan berarti “menciptakan, menjadikan,  atau menumbuhkan” (Lihat QS. al-an-'am: 141 "Dan Dialah yang MENCIPTAKAN surga..dst..", atau QS. al-Waqiah: 35, "Kami MENCIPTAKAN mereka [bidadari-bidadari]  dengan langsung..dst.") . Penggunaan model seperti ini bisa juga menimbulkan tone atau bunyi berbeda seperti Insya-Ullah atau InsyaUllah. Jika seperti ini, dikhawatirkan ada sebagian kalangan memaknai kata ‘Allah’ sebagai objek (maf’ul) yang diciptakan, padahal tentu saja tidak demikian, karena itu merupakan sebuah makna yang sangat keliru, dan kita berlindung kepada Allah atas makna demikian.


Dimana Hiperkoreknya?

Penulisan ‘insya Allah’ menjadi ‘in sha Allah’ justru menjadi keliru, karena dalam bahasa Indonesia, huruf ‘syin’ (ﺵ ) ditransliterasi ke dalam fonem 'sy' sedangkan fonem ‘sh’ adalah  transliterasi untuk huruf ‘shad’ (ص).  Sehingga jika kita menulis “in sha Allah” maka padanannya dalam bahasa Arab adalah ( إن صاء الله ) atau ( إن ص الله ) yang justru tidak ada maknanya.

Hal ini berbeda dengan di Malaysia yang mengadopsi transliterasi dari bahasa Inggris dimana ‘syin’ (ﺵ ) di tulis dengan fonem ‘sh’. Orang-orang di London sana, yang suka makan kentang  itu, mereka mentransliterasi semua huruf ‘syin’ (ﺵ )  menjadi ‘Sh’, itu sebabnya kita melihat kata-kata yang tidak lazim kita baca di Indonesia seperti: Shukoor, Shuuraa, Shukran, dll., yang kita pahami dengan syukur, syura, syukran, dst. Apakah orang Indonesia yang menulis ‘in shaa Allah” akan secara konsisten menuliskan lafadz-lafadz yg tak familiar itu? Bagiamana dengan Shahadat, shamil? Maashaa Allah. :-)



Masalah Transliterasi
Yang perlu kita pahami adalah standar transliterasinya. Dalam banyak jurnal ilmiah keagamaan yang saya baca, penulisan إِنْ شَاءَ اللّهُ  ke dalam bahasa Indonesia lazim ditulis dengan frasa “insya Allah” dan tidak ada masalah dengan itu sampai muncul broadcast  hiperkorek yang ‘mempersoalkan’ penulisan “insya Allah” tersebut.

Sekalipun tidak ada standar baku mengenai transliterasi huruf Arab ke huruf  latin berbahasa Indonesia (setidaknya sejauh ini saya belum menemukan bentuk bakunya), bisa dipastikan hampir tidak pernah ada penggunaan fonem ‘sh’ untuk mewakili ‘syin’ (ﺵ )  dari bahasa Arab.

Karena tidak ada bentuk baku inilah, dalam penulisan karya-karya ilmiah, baik skripsi, tesis, disertasi atau pun jurnal-jurnal ilmiah keislaman, mudah kita dapati pedoman transliterasi di halaman muka. Tapi hampir pasti tidak ada satu pun jurnal ilmiah berbahasa Indonesia yang mengalihtuliskan huruf syin (ﺵ) dengan fonem ‘sh’,  kecuali Jurnal Islamia yang memang awal diisi oleh penulis-penulis binaan Syed M.Naquib al-Attas asal Malaysia. Penulisan huruf syin (ﺵ )  menjadi ‘sh’ dalam frasa “in sha Allah” justru menimbulkan confused seolah-olah tulisan arabnya adalah إن صاء الله  yang tidak ada maknanya itu. Belakangan UIN Jakarta memang menggunakan fonem 'sh' untuk huruf (ﺵ ) tetapi itu pun dengan alasan tak sama dengan broadcast yang banyak beredar itu.

Penulisan frasa ‘insya Allah’ sudah lazim di Indonesia dan tulisan tersebut lazim kita dapati pada buku-buku terbitan Kementerian Agama, maupun buku keislaman lain, seperti Tarjamah Tafsiriyah versi Ust.Muhammad Thalib, dan tulisan karya asatidz lain di Indonesia. Tentu saja beliau-beliau para penulis dan penerjemah itu bukan orang yang awam mengenai hal ini.

Demikian pula jika rekan-rekan menulis kata “insya Allah”  pada situs www.kbbi.web.id, maka penjelasan yang muncul adalah expression that is used to express the hope or promise that is not necessarily fulfilled (meaning 'God willing',) atau ungkapan yg digunakan untuk menyatakan harapan atau janji yg belum tentu dipenuhi (maknanya “jika Allah mengizinkan”). Tapi jika kita mengetik “Insha Allah/in Shaa Allah/ atau in syaa Allah” dengan memisahkan ‘in’ dan ‘syaa’ maka tidak akan ada penjelasan yang didapatkan, alias not found.

Untuk penulisan “in syaa Allah”, Jika ingin mengoreksi agar benar-benar tepat, maka penulisan “in syaa Allah” sendiri sebetulnya masih kurang tepat. Harusnya jika memang “benar-benar ingin benar” maka transliterasinya adalah “in syaa-a Allaah”, atau "in syaa' Allaah" dan ketika menulis “Masya Allah”  maka yang lebih tepat adalah “maasyaa-a Allaah” atau "maasyaa' Allaah", dst.

Menurut analisis saya (pake gaya Sentilun), tidak ada masalah untuk menulis "insya Allah/insya Allaah/in sya Allah" maupun “in syaa Allaah” karena semuanya tetap merujuk kepada kalimah  إِنْ شَاءَ اللّهُ  dalam bahasa Arab. Ini hanya berada pada zona transliterasi atau penyesuaian fonem saja. Akan menjadi keliru kemudian jika kita menuliskannya dalam bahasa Arab dengan merubah tulisannya,  atau  bicara dalam bahasa Arab dengan merubah tone-nya.

Bagi mereka yang tinggal di Indonesia, frasa “insya Allah” sudah lazim dan sama sekali tidak dimaksudkan sekaligus tidak  pula diartikan dengan “menciptakan Allah”, karena tulisan tersebut hanya transliterasi yang memiliki keterbatasan dengan fonem bahasa Asal. Tidak merubah huruf asli dan tidak pula merubah bunyinya, hanya mengalihtuliskan kata dari  bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia dimana fonemnya tidak seluruhnya sama. Persis sebagaimana penulisan Aisyah yang tidak perlu ditulis menjadi “‘Aa-isyah”, atau “ibnu Khattab” menjadi “ibn Khaththaab”, atau Abdurrahman Wahid menjadi ‘Abd al-Raḫmȃn Wȃhid.  Itu hanya pilihan transliterasi.

Transliterasi sendiri di banyak jurnal ilmiah seringkali menggunakan bantuan simbol yang dianggap lebih membantu, al-ḫamd li Allȃhi Rabb al- ‘alamȋn..

Dan tentu saja daqlam konteks yang sama, teman-teman di Malaysia atau di negara-negara barat tetap bisa menuliskannya dengan “in sha Allah”.

Wa Allȃhu a’lam
@mistersigit

6 komentar:

  1. Saya coba tambahkan mas:
    Secara literasi saya setuju mas, karena adanya perbedaan literasi di setiap negara. Namun kalau ditarik ke mufradat bahasa Arab makna أنشأ adalah menjadikan, mendirikan, menciptakan. Diluar konteks literasi pernyataan Dzakir Naik benar adanya. Coba lihat Surat Al-An'am 141:
    وَهُوَ الَّذِي أَنشَأَ جَنَّاتٍ مَّعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۚ كُلُوا مِن ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

    Demikian mas, barakallahu fiikum

    BalasHapus
  2. Syukran katsiran atas infonya. saya edit sedikit ya menambahkan masukan antum. (y)

    BalasHapus
  3. Justru hiperkorek ada pada anda wahai saudara..

    BalasHapus
  4. a' kalo diterjemahkan ke dlm bhs Arab, bukankah itu menjadi a'in

    BalasHapus
  5. Mas sigit, di UIN skrg menggunakan transliterasi Chicago University, dmn huruf "syin" ditulis dg "sh". Kl ga percaya coba cek di PPs UIN Jkt. "Syariah" ditulis dg "shariah". So.. tergantung transliterasi yg dipake. Finally, tdk ada yg salah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Great Mr.Thobieb!

      ow berarti UIN ngikut ke standar barat ya.

      benar om, poitnnya adalah bahwa masalahnya hanya pada ada transliterasi saja, bukan pada arti yang dikhawatirkan berubah sehingga harus dikoreksi..


      nice info, om ;-)

      Hapus