Subhanallah

Maha Suci Allah

Alhamdulillah

Segala Puji bagi Allah

laa ilaaha illaLlah

tiada tuhan selain Allah

Allahu Akbar

Allah Maha Besar

Astaghfirullah

aku mohon ampun kepada Allah

Kamis, 16 April 2015

Surat Terbuka untuk Ustadz Yusuf Mansur

www.wisatahatiyusufmansur.com

Assalamu’alaikum Wr Wb

Ustadz Yusuf Mansur, selaras dengan ucapan salam nan mulia ini, saya berdoa kiranya Allah memberikan padamu keberkahan, rahmat dalam setiap langkah, perlindungan, penjagaan, dan menerangi setiap langkahmu dengan cahaya-Nya yang tidak pernah redup.

Saya adik kelas antum, ustadz. Kita sama-sama alumni Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, hanya saja berbeda fakultas. Antum Fakultas Syariah dan Hukum, saya Fakultas Ushuluddin dan Filsafat. Beberapa tahun lalu istri saya membeli satu paket masterpiece karya tulis ustadz, Wisata Hati, yang jika tak keliru terdiri dari empat buah buku. Mohon maaf sebelumnya, karena terus terang saya tidak habis membaca buku itu. Saya pikir, pilihan bahasanya terlalu sederhana bagi saya yang gandrung buku-buku pemikiran, namun sejurus kemudian segera saya insafi, saya paham bahwa antum bersengaja menulis buku itu dengan kalimat sederhana agar masyarakat kita mudah menangkap pesan yang ingin antum sampaikan.

Sebab demikian banyak buku keagamaan yang sarat bahasa langit, bahasa kaum intelektual yang tak mudah dimengerti, yang membuat pembaca mengernyitkan dahi sebab buku tersebut memang hanya untuk kalangan tertentu, bukan untuk masyarakat secara umum. Masyarakat kita perlu buku yang praktis, sehari-hari, sederhana dan aplikatif. Tahniah untuk antum ustadz, karena telah mengisi kekosongan itu. Agar sederet buku agama tidak menjelma menara gading: indah, membuat orang berdecak, namun mereka tak kuasa menggapainya.

Ustadz Yusuf Mansur, beberapa waktu lalu antum ramai diperbincangkan di dunia maya, karena sikap antum yang dipandang berani membela kepentingan ummat. Tak sedikit yang mencibir, menjadikan antum bahan olok-olokan atau di-bully di media sosial. Jangan takut ustadz, selama antum membela kebenaran, jutaan umat ini insya Allah akan tetap berdiri bersamamu, saling menggenggam dan membahu untuk bersama menjaga agama.

Antum yang bereaksi keras atas rencana penghapusan tata cara berdoa Islam di sekolah. Reaksi terhadap wacana pengaturan ulang tata cara berdoa di sekolah sebetulnya bukan hanya dari antum, ustadz. MUI, Muhammadiyah, dan ormas-ormas Islam lain, juga mengeluarkan reaksi serupa, tapi ummat ini terlanjur menaruh beban di pundak antum. Sehingga pendapat antumlah yang sangat cepat menyebar dimana-mana.

Sekalipun kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan kemudian menyampaikan klarifikasi, sungguh sulit untuk menerima sebuah statementnya yang mengatakan : “Sekolah negeri harus mempromosikan sikap Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan satu agama,” di sejumlah portal nasional, termasuk keinginannya untuk membuat regulasi yang mengatur mengenai penggunaan doa sebelum dan sesudah sekolah agar tidak didominasi oleh satu agama tertentu. Pertanyaan besar muncul dalam benak kita, “memang ada masalah apa selama ini dengan tata cara berdoa di sekolah?”

Tentu sebagai bagian terbesar dari komposisi penduduk negeri ini, lebih dari 84% dari 230juta jiwa, dominasi masyarakat beragama Islam tidak bisa dinafikan. Kecuali hanya pada sedikit kota, umat Islam di Indonesia pasti mendominasi, lalu apakah salah jika doa dipimpin dengan “tata acara agama tertentu”? apakah kata ‘Allah’ akan diganti ‘Tuhan’ saja, dan doa-doanya dibuat se-universal mungkin? Sementara pada saat yang sama jumlah jam pengajaran agama juga tidak bertambah. Di saat negara-negara sekular mulai mendekat ke agama, Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia ini, yang penduduk Muslimnya lebih banyak dari seluruh penduduk negara-negara timur tengah apabila disatukan, justru nampak ingin menjauhkan diri dari agama.

Kementerian Agama, melalui Sekretaris Jenderal Kemenag Prof.Dr.H.Nur Syam, maupun Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Prof.Dr.H.Kamaruddin Amin menyatakan bahwa pengaturan tata cara berdoa sebetulnya bukan hal yang aktual untuk dipermasalahkan. Kata Prof.Kamaruddin, Guru agama Islam, misalnya, mengajak berdoa sebelum dan sesudah pelajaran yang tentunya secara Islami. Begitu juga dengan pelajaran agama lain akan berdoa sebelum dan sesudah pelajaran sesuai agama yang diajarkan tersebut. Karena itu, tidak ada format doa apa pun. Kita tahu, Kementerian Agama membawahi lembaga pendidikan untk semua agama, baik agama Islam maupun agama lainnya. Membuat riak sehingga menimbulkan kegaduhan seperti disampaikan Menteri Anies di masyarakat, bukanlah hal yang elok.

Ustadz Yusuf Mansur, sekiranya pada waktu itu antum tidak bereaksi keras yang menyebabkan pesan antum menyebar cepat melalui media sosial, sungguh saya ragu Anies Baswedan akan berikan klarifikasi.

Pun dukungan yang sama ingin saya sampaikan saat antum jelaskan larangan umat Islam mengucapan selamat Natal. Tidak ada masalah dengan itu. Sama sekali itu bukan merupakan sikap intoleransi. Toleransi adalah kita menjamin keamanan mereka merayakan hari besarnya, menjaga mereka berbahagia saat berhari raya, namun jika agama Islam sememangnya melarang untuk  ucapkan selamat hari raya bagi umat lain, maka umat beragama lain pun selayaknya menghormati keyakinan itu sebagai bagian dari keimanan yang berbeda. Mari buat semuanya mudah dan sederhana.

Ketika antum berkicau, ustadz, tentang rencana penghapusan kolom agama, atau pun pengosongannya, saya tetap mendukung. Tetaplah terdepan membela umat. Negeri kita hari ini dipenuhi pola pola tes the water, melihat riak gelombang untuk tahu reaksi masyarakat. Tes the water itu memang perlu ditanggapi, jika masyarakat hanya diam maka kebijakan itu akan ditelurkan. Wacana penghapusan kolom agama, pelarangan takbir keliling, merubah pakaian muslim ke pakaian adat di sekolah, pengaturan tata cara berdoa, dan seterusnya. Umat tidak boleh diam di saat seperti ini.

Ustadz, jika memang pundak antum telah dibebani amanah dan kepercayaan dari umat sebesar ini, tetaplah istiqamah. Jika di waktu-waktu ke depan muncul lagi tes the water terhadap umat Islam, tetaplah di depan.  Umat akan bersama antum, insya Allah!

Intelektual Muslim, Mengajarlah di IAIN!

Pekan ini, kita dibuat geger oleh sekelompok kecil Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, Surabaya. Geger karena demikian sensasional tema besar mereka dalam menyambut mahasiswa baru, “Tuhan Membusuk, Rekonstruksi Fundamentalisme menuju Islam Kosmopolitan” demikian tema yang mereka pandang dapat mencerahkan mahasiswa baru itu.

Frasa ‘Tuhan Membusuk’ itu sebetulnya nyanyian lama dengan aransemen baru. Sepuluh tahun silam, mahasiswa fakultas serupa di UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, berteriak “Anjinghu Akbar!” melengkapi ‘sabda’: “Selamat Datang, di Kampus Bebas Tuhan”.

Frasa-frasa bombastis dan ‘menyerang Tuhan’ ini memang “makanannya anak-anak Fakultas Ushuluddin dan Filsafat” di sejumlah kampus UIN/IAIN di Indonesia. Mahasiswa Ushuluddin diberikan kebebasan untuk menafsir tuhan, mengkritik hingga meragukan otentisitas al-Quran, atau menafsirkan shalat sesuai paham hermeneutik yang ada di balik kepala mereka. Sebagian (kecil) di antara mereka menolak shalat ritual dan menggantinya dengan ‘shalat sosial’, sebab ‘shalat sosial’ dianggap lebih substantif daripada shalat ritual.

Shalat ritual adalah shalat sebagaimana kita pahami, dengan bilangan rakaat, dan didirikan pada waktu yang telah ditentukan, sementara Shalat Sosial dipahami sebagai ibadah kepada Tuhan dengan melakukan kebajikan, memberdayakan kaum miskin, menolong kaum dhuafa, membebaskan rakyat dari belenggu kezaliman sebagaimana diyakininya, dst., Menurut “sebagian sangat sedikit’ mahasiswa itu, shalat sosial lebih bermanfaat daripada shalat ritual, dan oleh karenanya shalat ritual adalah hal yang tak terlalu diperlukan. Nampaknya mereka merasa lebih paham Islam ketimbang Rasulullah yang masih melakukan shalat ritual. Entah apa yang ada dibalik kepalanya ketika memahami ayat “inna shalata kaanat ‘alal mukminiina kitaaban mawquutaa” yang jelas merupakan perintah shalat  ritual itu.

Demikianlah, sekalipun sebagian kecil “tersesat pada akhirnya”, bagi mahasiswa Ushuluddin dan Filsafat, kritisisme terhadap doktrin-doktrin agama diperlukan agar agama tak menjelma dogma yang sulit dipahami nalar. “Kami paham maka kami beriman, dan bukan sebaliknya”. Akal harus bisa menerjemahkan doktrin-doktrin agama supaya ia mengakar di dalam dada, karena akal adalah anugerah Tuhan yang membedakan manusia dengan binatang. Namun karena tidak seimbang, doktrin yang sebetulnya baik ini pada akhirnya menjadikan sebagian mereka menjadi sangat liberal, judul seminar ‘anak-anak Ushuluddin’ memang bombastis dan menggelitik nalar, seperti “Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan”, “Ketika Keadilan Tuhan dalam Gender Dipertanyakan”, dst.
Sewaktu masih berkuliah di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, kami pernah melakukan survei di bawah pengampu Dr. Saiful Mujani, begawan survei paling populer waktu itu yang juga mengajar Metodologi Penelitian di Fakultas.

Survei kecil-kecilan itu mencari korelasi antara liberalisme pemikiran Islam dengan sebaran jurusan di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Hasilnya, Jurusan Aqidah Filsafat adalah jurusan dengan mahasiswa paling liberal dalam memahami Islam, disusul berturut-turut Jurusan Perbandingan Agama, Sosiologi Agama, lalu Tafsir Hadits, dan Pemikiran Politik Islam (PPI)  pada sudut paling konservatif. Waktu itu Saiful Mujani berseloroh, mungkin di PPI ini banyak anak LDK-nya, (Lembaga Dakwah Kampus).

Pada kesempatan lain, Saiful Mujani juga pernah mempublikasi hasil survey yang cukup menarik, bahwa kalangan Islam liberal lebih tidak taat agama daripada kalangan fundamentalis. Dalam pengertian, indikator taat agama dimaksud adalah shalat tepat waktu, melakukan shalat-shalat sunnah, membaca al-Quran, dll.

Sebagai alumni Fakultas Ushuluddin (dan atas kehendak Allah saya lulus dengan predikat cum laude),  saya tidak terkejut dengan tema “Tuhan Membusuk” yang digemborkan oleh mahasiswa di UIN Sunan Ampel itu. Saya ingin mencoba meraba apa yang dimaksud dengan “Tuhan” oleh calon-calon intelektual yang kontoversinya sudah pasti tapi jadi orang besarnya belum tentu itu,  saya coba menebak apakah Tuhan dimaksud adalah nafsu angkara yang meraja dalam dada manusia yang kian dipertuhankan hingga kita inginkan ia membusuk? Ataukah Tuhan Membusuk yang dimaksud adalah sebuah terma dimana manusia kian lupa kepada Tuhan, Tuhan didiamkan, tak disapa, tak dikunjungi sampai dikiaskan Ia “membusuk”?

Ataukah ‘tuhan membusuk’ adalah kesalahpahaman kalangan ‘fundamentalis’ sebagaimana diyakini oleh mahasiswa itu, tentang Tuhan yang kaku dan rigid, sehingga Tuhan menjadi demikian busuk yang atas nama-Nya membunuh orang lain menjadi halal dan dibenarkan? Ataukah tema “Tuhan Membusuk” ini hanya sebentuk kebebasan akademik sastrawi akibat gegar budaya, dimana mahasiswa-mahasiswa UIN itu mencoba bernalar liberal, anti mainstream, asal beda dan “sok sensasional?”

Rupanya rabaan ketiga yang benar. Tuhan membusuk yang dimaksud adalah “Tuhannya kaum fundamentalis” dalam pandangan mereka. Saya ingin kutip pernyataan Gubernur Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Ampel sebagaimana diberitakan indonesia.faithfreedom.org:

Gubernur Senat Mahasiswa dari Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Rahmad Sholehuddin menjelaskan bahwa tema tersebut diangkat dikarenakan atau berangkat dari sebuah realitas yang ada.

“Sekarang tidak sedikit orang atau kelompok yang mengatasnamakan Tuhan membunuh orang lain,” kata Rahmad, Sabtu 30 Agustus 2014.

Demi (membela) Tuhan, rata-rata mereka rela mempertaruhkan nyawanya sendiri. Perilaku ini dianggap sudah lazim dan dilakoni oleh sebagian kelompok yang mengklaim paling shaleh. Kelompok yang mengklaim paling islami. Dari pemikiran tersebut, kelompok yang berbeda dengan mereka dapat dengan mudahnya dianggap atau dituduh kafir (darahnya halal).

Selain itu, fenomena yang terjadi dalam keberagamaan yang mulai menempatkan spiritualitas sebagai alternatif pemecahan berbagai problem kehidupan. Ironisnya, ada juga yang beragama dengan bertitik tolak pada pertimbangan matematis-pragmatis.

“Agama (Tuhan) tidak lebih hanya dijadikan sebagai pemuas atas kegelisahan yang menimpanya. Tidak salah kalau sekarang agama dikatakan berada di tengah bencana,” tegas mahasiswa dari jurusan Perbandingan Agama ini.

Salah satu mahasiswa lainnya, Rahmad juga memberi contoh, ketika ditimpa musibah maka dengan reflek masyarakat ingat Tuhan. Keadilan Tuhan pun digugat. Di sisi lain, peran Tuhan kerap berada dalam simbol ketidakberdayaan.

“Lagi-lagi Tuhan berada di pojok kesalahan. Itulah salah satu alasan dari kami mengangkat tema tersebut,” tandas alumnus Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong Probolonggo ini.
Dia juga menambahkan bahwa yang hendak dikritik itu bukan eksistensi dari Tuhan, melainkan nilai-nilai ketuhanan yang sudah mulai mengalami ‘pembusukan’ dalam diri masyarakat beragama.
“Dengan tema ini, kami berharap bagi mahasiswa baru bisa menerapkan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Demikianlah, Tuhan yang mereka maksud. Mungkin tidak seperti yang sepintas dipahami oleh masyarakat luas. Sayang mahasiswa tersebut nampak kurang bijaksana memilah kata. Statemen yang ia sampaikan terlihat seperti apologi dari “sensasionalisme dan bombastisisme” yang berapi-api, padahal mereka sedang menyambut mahasiswa baru yang baru saja lulus SMA, aliyah, atau baru meninggalkan pondok pesantren guna menuntut ilmu di kampus Islam itu.

Tema tersebut awalnya tentu hanya konsumsi internal, bukan untuk masyarakat luas secara umum, akan tetapi di era sosial media “dimana isu menyeberang jauh lebih cepat dari penjelasan kita”, masyarakat berhak pula untuk menafsir frasa Tuhan Membusuk itu dari perspektifnya masing-masing, dan mereka berhak menggugat, bahkan memberikan penilaian buruk atas pilihan kata yang diambil.

Selain berbobot akademik, berlaku bijak dalam memilah tema saya kira merupakan hal yang patut dipertimbangkan sebagai mahasiswa ilmu agama. Bukankah sejak dulu, agamawan dan filosof dipandang sebagai kaum cendekiawan nan bijaksana?

Masyarakat kita adalah masyarakat religius. Masyarakat Nusantara menempatkan Tuhan sebagai Dzat yang dihormati. Ia dipuja dan disembah. Ia diingat pada setiap desahan nafas. Bahkan diibadahi pada malam-malam yang sunyi. Oleh karena itu ketika sebagian kecil mahasiswa mengatakan “Tuhan membusuk” dengan penjelasan apapun, masyarakat tak dapat menerima dan terlanjur mengatakan: “otak mahasiswa Ushuluddin itulah yang sudah busuk”,  lalu kampus UIN Sunan Ampel pun tercitrakan busuk pula, bahkan akhirnya melebar ke kampus-kampus UIN/IAIN lainnya di Nusantara sebagaimana saya lihat ramai di sosial media.

Intelektual Muslim, Mengajarlah di IAIN
Fenomena yang terus berulang ini sebetulnya menjadi pelajaran berharga bagi para intelektual Muslim yang concern pada pemikiran Islam, atau memosisikan diri sebagai penyeimbang di tengah derasnya arus liberalisme pemikiran Islam dewasa ini. Hal ini disebabkan karena keberanian mahasiswa Ushuluddin tersebut sebetulnya merupakan produk dari corak pemikiran yang mereka terima. Teko hanya mengeluarkan isi teko, jika teko tersebut diisi air yang jernih ia akan mengeluarkan air yang jernih, sebaliknya, jika teko tersebut diisi air yang keruh ia akan mengeluarkan air yang keruh pula. Penghormatan terhadap Tuhan atau Nabi adalah produk dari tidak dicontohkannya adab kepada Tuhan atau kepada Nabi. Misalnya, pernah dalam suatu perkuliahan dulu, kami para mahasiswa terkejut ketika seorang dosen menggunakan kata “mati” untuk Nabi Muhammad pada waktu Diskusi Politik Islam. “ketika Muhammad mati,” kata dosen tersebut yang dengan segera diluruskan oleh Mahasiswa, “Wafat, bu”. Saya sendiri sangat tersinggung waktu itu.

Pengalaman menjadi mahasiswa Fakultas Ushuluddin di IAIN/UIN memang menarik. Bayangkan, secara pribadi, ketika OSPEK dulu saya nyaris tak bisa Shalat Ashar karena rangkaian acara yang terus berjalan hingga menjelang Maghrib. Sampai akhirnya saya complain kepada kakak kelas karena waktu sudah pukul lima sore tapi tak ada tanda-tanda break untuk sekadar shalat. Mahasiswa baru tak berani protes karena secara psikologis dalam posisi tak berdaya. Akhirnya saya sampaikan pada panitia, saya mau shalat, dan mohon sesi diskusi ditunda dulu. Raut kakak kelas di Fakultas Ushuluddin itu nampak terkejut dengan permintaan tersebut. Teman-teman peserta OSPEK lain di kelompok ikut menguatkan, kami belum Shalat Ashar. Bayangkan, akhirnya kami Shalat Ashar diujung waktu. Lewat pukul lima sore di sebuah kampus Islam terbesar di Indonesia, pada fakultas yang concern pada studi Pokok-pokok Agama, Fakultas Ushuluddin, Fakultas lain tidak demikian. Dalam OSPEK itu pula kami, mahasiswa baru, diberi majalah gratis bernama Syir’ah, sebuah majalah yang kental nuansa liberalnya.

Pun ketika berkuliah, seorang dosen meyakinkan, carilah Tuhan olehmu. Bahkan jika kamu tak menemukan-Nya Tuhan akan memaafkan karena kamu sudah berusaha mencari-Nya. Tuhan justru tak akan memaafkan jika kamu merasa mengenal-Nya padahal kamu belum pernah mencari Dia. Konklusi sang dosen ini, sekalipun pada akhirnya kita menjadi atheis (atau murtad) akibat pengembaraan kita mencari Tuhan sebab ragu akan eksistensi-Nya, lalu tak berhasil menemukan Dia sehingga memilih menjadi atheis, lalu meninggalkan shalat dan tak imani keberadaan Allah, kita akan termasuk golongan yang selamat.

Atau misalnya, bagaimana dada saya berguncang ketika menyelami alam pikiran filosof kontroversial Abu Bakar Muhammad Ibnu Zakaria Ibnu Yahya Al-Razi tentang Yang Kekal selain Tuhan, penjelasan dosen saat itu begitu rasional sekaligus menggelisahkan, kemudian saya dibiarkan dalam keadaan gelisah berhari-hari lamanya. Saya bersyukur berkat bertanya kesana kemari, saya menemukan jawaban menenangkan dan semakin menguatkan keyakinan saya tentang Tuhan.
UIN memang terkenal karena liberalisme pemikiran Islamnya, namun perlu diketahui kelompok seperti ini sebetulnya hanya terkonsentrasi di fakultas agama utamanya Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, dan Fakultas Syariah dan Hukum, sedangkan di fakultas-fakultas umum seumpama Fakultas Psikologi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Tarbiyah, Fakultas Ekonomi, atau Fakultas Sains dan Teknologi, corak pemikiran Islam liberal ini senyap.

Demikian pula sebetulnya, mahasiswa yang mengimani liberalisme pemikiran Islam di Fakultas Ushuluddin pun tidak banyak. Mereka hanya sedikit di antara sekian banyak mahasiswa Ushuluddin yang rata-rata jebolan pesantren itu. Sedikit tetapi sensasional sehingga mendapat liputan media, seumpama ungkapan kencingilah air Zamzam jika ingin terkenal. Mereka rajin mengadakan seminar-seminar ilmiah dan diskusi dengan bahasan yang menggelitik nalar, mengkritisi agama, dengan tema-tema bombastis sehingga menarik minat mahasiswa untuk hadir.

Pun, dosen yang memiliki corak pemikiran serupa, sangatlah rajin mengajar. Sebutlah Zainun Kamal, Kautsar Azhari Noor, atau dulu semisal Prof. Harun Nasution, dan dosen yang terkenal dengan pemikiran liberalisme Islam lainnya, adalah tokoh-tokoh yang sangat dedikatif mengajar. Dalam tiap semester, mungkin hanya satu kali absen, selebihnya full mengajar.

Berbeda dengan dosen lain yang, katakanlah, berpaham Islam mainstream. Dosen-dosen aktivis dakwah itu justru jarang mengajar karena mungkin sibuk dengan agenda dakwah di pergerakan-pergerakan Islam. Saya sendiri, dalam sebuah perbincangan dengan senior aktivis dakwah kampus yang alumni jurusan Aqidah Filsafat, sempat bertanya: “abang kenapa ga coba mengajar di Ushuluddin. Kasihan teman-teman mahasiswa karena dosen yang liberal rajin-rajin mengajar sementara yang antiliberal justru seringkali absen.”

Kembali pada judul tulisan kecil ini, saya kira fenomena semacam ini menjadi sebuah pelajaran menarik. Para intelektual Muslim yang saat ini giat meng-counter ide-ide Islam liberal perlu untuk menjadi dosen di kampus-kampus UIN/IAIN. Memang benar, tidak perlu menjadi dosen UIN untuk menghadang ide liberalisasi pemikiran Islam, tetapi kampus-kampus UIN sebagai basis awal liberalisasi pemikiran Islam perlu diimbangi oleh dosen dengan ragam pemikiran berbeda agar melahirkan referensi yang seimbang bagi khazanah pengetahuan mahasiswa. Hal ini karena kajian  keislaman di luar kampus, atau hanya sekadar membaca buku dengan ragam pemikiran berbeda, tak akan se-intensif ketika berdiskusi langsung dengan dosen-dosen tersebut berikut perdebatan dengan rekan mahasiswa di kelas yang memperkaya wawasan. Mengajarlah, agar mereka punya adab terhadap Tuhan dan Nabi-Nya.

Saya terkejut, ketika akun facebook dari seorang yang dipandang intelektual Muslim, atau setidaknya menjadi rujukan para aktivis anti Jaringan Islam Liberal (Anti-JIL) menulis di status-nya: “lebih baik  bubarkan saja UIN Sunan Ampel!” Bagi saya itu terlalu reaktif. Apakah para intelektual itu sudah mencoba untuk mengajar di sana guna menyelamatkan akidah para mahasiswa? atau memikirkan bahwa jauh lebih banyak mahasiswa yang masih “menghargai Tuhan” ketimbang sedikit mahasiswa yang mencari sensasi itu? bagaimanapun jangan sampai sedikit noda ini kemudian menutup mata kita atas jasa lahirnya ulama-ulama dari kampus UIN yang menjadi rujukan umat di Indonesia. Selayaknya universitas, corak pemikiran di UIN memang sangat terbuka. Pemikiran boleh beragam-ragam selama itu bisa dipertanggungjawabkan secara akademis.

Pertanyaannya adalah, jika orang-orang liberal itu bisa mengajar di UIN/IAIN, lalu apa yang menghalangi pemikir-pemikir muda Muslim untuk melamar menjadi dosen di Fakultas Ushuluddin di UIN/IAIN?

Menanti Koalisi Partai - Partai Islam

Sampai tadi pagi di bus jemputan kantor, saya masih melihat hasil quick count sejumlah lembaga survei terhadap raihan suara partai-partai peserta Pemilu. Hasilnya memang mengejutkan. Saya jadi teringat ucapan politisi PAN, Drajat Wibowo, ketika diwawancarai presenter TVOne, kemarin sore. Ekonom yang sempat digadang-gadang menggantikan Gita Wirjawan sebagai Menteri Perdagangan itu mengatakan bahwa hasil quick count ini meluruskan dan membantah prediksi lembaga-lembaga survei yang menghambakan dirinya kepada uang. Memang jika kita melihat hasil survei yang dirilis oleh lembaga-lembaga survei mendekati Pemilu, nampak survei tersebut sekadar dagelan dibungkus metode ilmiah. Lembaga survei kemudian berlindung dibalik data “sejumlah pemilih yang belum menentukan sikap” dan menjadikan kalimat tersebut sebagai justifikasi hasil quick count yang rupanya berbeda dengan survei elektabilitas partai yang sudah mepet menjelang masa tenang itu.

Fakta Menarik di Balik Pileg 2014
Golkar memang sulit dibendung. Akar politik Golkar sudah menjamah ke pelosok-pelosok desa. Pun  fanatisme masyarakat terhadap Golkar –dan pada beberapa hal terhadap Soeharto— Nampak sulit direduksi dan disalip partai lain. Sehingga bukan kejutan melihat Golkar bertengger di posisi dua. Banyak pihak sudah memprediksi itu. Sementara Hanura harus mengubur mimpinya memajukan Win-HT sebagai capres cawapres sekalipun sudah kampanye besar-besaran di media-media milik pengusaha Harry Tanoesoedibyo. Berbeda dengan Gerindra yang melejit ke posisi ketiga sebagai buah dari “kemenakjuban” Prabowo Effect.

Yang tak kalah mengejutkan adalah suara PDIP. Sebelum pemilu, sejumlah survei sempat menyebut elektabilitas partai moncong putih itu menembus 30 bahkan 35%. Jokowi effect yang dibesarkan oleh media rupanya tak terlalu signifikan. Artinya, seluruh partai harus mencari teman koalisi untuk memenuhi ambang presidential treshold 25% atau parliamentary threshold 20% sebagai syarat calonkan presiden.  Di sinilah posisi partai-partai Islam yang memenuhi deretan partai papan tengah menemukan signifikansinya.

Peta Partai Islam
Raihan suara partai papan tengah yang relatif merata menjadi penentu peta koalisi pada pilpres mendatang. Versi quick count, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meraih suara mengagumkan dengan perolehan suara di atas 9%. Selain berhasil mengonsolidasikan basis suara tradisional Nahdlatul Ulama, strategi Muhaimin Iskandar, ketua Umum PKB mem-publish calon presiden dari kalangan public figure seperti Rhoma Irama, Jusuf Kalla, dan Mahfudh MD sebagai vote getter cukup jitu untuk mendongkrak suara PKB yang pada Pemilu lalu hanya memperoleh suara 4.9%. Ketiga tokoh itu memiliki basis massanya sendiri. Sebagian pengagum musisi Ahmad Dhani juga nampaknya terpengaruh untuk memberikan suaranya ke PKB setelah melihat pemillik Republic Cinta Manajemen itu beriklan untuk PKB. Hanya saja PKB harus berhati-hati, karena suara besar tak mesti berbanding lurus dengan perolehan kursi di parlemen. Suara PKB besar di Pulau Jawa yang Bilangan Pembagi Pemilih-nya lebih tinggi. Bisa jadi, sekalipun bersuara besar, tapi raihan kursi PKB di parlemen lebih sedikit daripada PAN atau bahkan PKS. Hal ini tentu akan berefek pula pada bargaining position dalam peta koalisi. Harga kursi di pulau Jawa memang “lebih mahal” daripada kursi dari Daerah Pemilihan (Dapil) lain.

Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga meraih kenaikan suara sekalipun tidak signifikan. Over all suara partai-partai Islam cukup baik pada Pemilu kali ini.  Yang cukup mencuri perhatian adalah suara Partai Keadilan Sejahtera. Versi quick count, PKS bertengger pada posisi 6.5% menurut data Lingkaran Survei Indonesia, atau 7% versi Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), jika margin of error dari survei dengan metode multistage random sampling itu sebesar 1%, maka suara PKS akan berkisar antara 5,5 hingga 8 %. Sebuah pertahanan yang mengagumkan di saat pemberitaan mengenai PKS begitu negatif di media massa. (lihat rilis survei Pol-Tracking Institute berjudul “Prediksi Elektabilitas Partai pada Pemilu 2014: Mengukur Pengaruh Pencapresan Jokowi dan Tone Pemberitaan 15 Media Mainstream pada Masa Kampanye”.

Raihan suara PKS ini mematahkan pandangan (atau keinginan?) sejumlah pengamat yang menyebut riwayat PKS akan berakhir di bawah 3%, sekaligus membuktikan  bahwa mesin partai dakwah tersebut bekerja dengan sangat efektif. Di tengah terpaan badai sedemikian rupa, bisa bertengger pada posisi 6-7%  untuk PKS saya kira termasuk prestasi yang luar biasa. Artinya, suara PKS hanya turun sedikit dari Pemilu 2009 yang meraih suara sebesar 7.8%. PKS sebetulnya “merugi” (dalam tanda kutip) karena Mahkamah Konstitusi meloloskan Partai Bulan Bintang (PBB) sebagai partai politik peserta pemilu 2014 pasca pakar hukum Yusril Ihza Mahendra mengajukan gugatan. Jika saja PBB tidak ikut Pemilu, maka basis massa PBB sebesar 1.39% kemungkinan besar akan melimpah ke PKS, mengingat irisan konstituen antara PBB dan PKS yang relatif dekat sebagai pewaris Masyumi. Massa PBB bagi PKS cukup berharga untuk menambah raihan suara mencapai 8% melampaui PAN.

Deretan partai-partai Islam, atau berbasis massa Islam sebagai papan tengah di atas, merupakan penentu bagi peta perpolitikan Indonesia, terutama menjelang koalisi menuju pilpres. Kekuatan partai Islam terletak pada bargaining  position-nya untuk menjadi pilihan bagi, setidaknya, tiga partai besar sebagai pasangan calon wakil presiden. Secara kasar kita tinggal mengira pasangan misalnya Jokowi-Hatta, Prabowo-HNW, ARB-Mahfudh, dan sejumlah skenario lain di mana tiga partai besar akan meminang partai-partai papan tengah untuk raup dukungan.

Partai Islam Berkoalisilah!
Tetapi peta politik akan menjadi sangat menarik, jika pada Pemilihan Presiden nanti partai-partai Islam ‘jual mahal’ dengan tidak berkoalisi dengan tiga partai pemenang. Partai-partai Islam bisa berkoalisi membentuk poros tengah jilid baru sebagai mana dulu dilakukan secara ciamik oleh Amien Rais, yang berhasil mengantarkan ketua PP Muhammadiyah itu sebagai ketua MPR, dan ketua PBNU, Abdurrahman Wahid sebagai Presiden. Partai-partai Islam dapat bergabung dalam sebuah ‘politik aliran’ yang  berbasis massa Islam. Politik aliran tidak dapat dibungkam sekalipun banyak pihak mengatakan doktrin Clifford Geertz era 50-an itu sudah tenggelam.

Fakta munculnya Kajian Politik Islam yang cukup ramai di Masjid al-Azhar Kebayoran Baru, atau Deklarasi Capres Ummat Islam di Masjid Islamic Center, Sentul beberapa waktu lalu, atau menyebarnya pesan broadcast anti agama tertentu dan kampanye-kampanye yang menggunakan semangat dan simbol agama  adalah fakta bahwa politik aliran di Indonesia tak akan pernah mati. Tentu bukan bermaksud untuk menghidupkan kembali nuansa lama itu, tetapi untuk menunjukkan bahwa memang politik aliran itu masih eksis dan akan tetap ada.

Tentu akan menjadi sebuah tantangan dan dinamika politik yang sangat menarik, jika pimpinan partai-partai Islam rela meninggalkan egoismenya, untuk kemudian bersatu. Akumulasi dari raihan suara partai-partai Islam mencapai 29-32%, sebuah suara  yang lebih dari cukup untuk mengajukan capres alternatif, sekaligus menyulitkan hasrat capres dari tiga partai pemenang Pemilu lainnya yang galau mencari cawapres.

Masalah konsolidasi bersama di parlemen yang membutuhkan setidaknya 50% tambah satu suara tentu bisa dinegosiasikan menyusul.  Partai Islam, bersatulah!

Ketika Dakwah Bermuhasabah: Saat Binaan Ingin Menikah, Murabbi Bijaklah

Saya punya dua kelompok binaan, satu kelompok usia 26, kini semua anggotanya sudah menikah, dan kelompok lain berusia 23 tahun, satu di antaranya baru saja genapkan separuh agama.
Ada hal menarik ketika mendengar curhat mereka, terutama tentang menikah. Biasanya anggota lain hanya senyum-senyum, mungkin curhat itu dianggap mewakili dirinya juga.

Tipikal orang itu memang beragam macam, tidak bisa satu karakter binaan, kita paksakan untuk sama dengan yang lain. Kisah shahabat Nabi mengajarkan kita bahwa karakter para sahabat juga beragam-ragam, tapi semuanya tetap bisa berselaras dengan Islam. Demikian pula semestinya kita memahami karakter binaan. Misalnya, satu binaan menyerahkan sepenuhnya keinginan untuk menikah kepada murabbi (guru pengajian), tapi yang lain “minta diupayakan dengan ‘akhwat yang itu”, sementara binaan lainnya ingin “mandiri” alias cari sendiri.

Bagi saya tidak masalah, ta’aruf melalui murabbi hanyalah satu cara, dan aneka cara lain selama halal adalah boleh. Dalam konteks ta’aruf, murabbi hanya berperan untuk membantu, dengan harapan kiranya sang binaan berserius untuk membentuk sebuah keluarga dakwah. Saya tidak pernah berfikir bahwa otoritas menikahkan ada di tangan murabbi. Murid terbina saya punya otoritas untuk menentukan pilihannya sendiri. Sedangkan untuk akhwat, otoritas untuk bersetuju atau tidak tentu berada di tangan walinya, bukan murabbi. Guru, pembina hanya fasilitator, mentor, motivator, atau mediator.

Menikah adalah keputusan besar. Dan itu adalah pilihanmu. Dan itu adalah hidupmu. Bisa jadi binaan punya pandangan tersendiri yang berbeda dengan murabbinya. Dan saya hormati itu. Jangan samakan generasi dakwah era 2000-an ke sini dengan kader dakwah era 80-90-an. Tidak sebanding karena konteksnya berbeda. Saat ini tantangan dakwah bukan lagi pada represivitas pemerintah melainkan pada tantangan media yang semakin terbuka, itu tak kalah beratnya.

Mari lihat seranai interaksi mereka di media sosial, berapa banyak kemudian kita mengetahui apa yang ada dalam hati mereka meluap-luap tumpah di sana. Merasa generasi 90-an lebih baik ketimbang yang sekarang adalah perbandingan yang tidak aple to aple. Mereka yang menjaga dirinya di era ini memang lebih baik, tapi tak elok membanding-bandingkan.

Alhamdulillah sejauh ini tidak ada binaan saya yang memposting hal-hal berbau galau tentang akhwat di akun sosial media mereka, memang lebih indah dibicarakan dalam halaqah, atau berdua ketika ia bertamu sendiri, “mau konsultasi” katanya.

Tapi saya ingin memahami, meski tidak membenarkan, keinginan sebagian binaan untuk menikah namun merasa terganjal oleh murabbi yang “over protected.Murabbi memang lebih banyak pengalaman, tapi ia bukan manusia super yang bisa memahami kedalaman isi hati setiap binaannya. Murabbi dituntut bijak untuk memahami, bahwa rasa cinta kepada seseorang bukan hal yang bisa dipaksakan, bukan pula hal yang mudah dinafikan. Jika ia ingin menikah dengan seorang akhwat yang diincarnya, selama akhwat itu memang baik, bantulah semoga ia mendapatkan kebahagiaannya. Bersyukur ia tidak pacaran. Jangan biarkan ia berlama-lama memendam rasa dalam kesunyian. Kasihan. Karena rasa semacam itu adalah fitrah yang telah Allah benamkan pada hati-hati manusia. Bukankah Fatimah juga memendam rasa kepada Ali sebelum ia dinikahinya? Demikian pula Ali. Ah, cinta sememangnya merupakan fitrah, bersyukur kita bisa merasakan gelisahnya.

Murabbi, bijaklah! Berhati-hati dalam memilihkan karena cinta kepada binaan tentu perlu, tapi terlalu menyulitkan tentu tidak bijak juga. Jika ada yang ingin menikah, mari bermudah-mudah!

Ketika Dakwah Bermuhasabah Bag.3 : Kala Murabbi Tak Sesuai Keinginan

September silam, sebuah pesan whatsapp dari nomor asing masuk ke handphone saya. Isi pesan itu berisi curahan hati seorang murabbi tentang binaan yang “lebih berkualitas” dari dirinya. Binaan itu baru menyelesaikan studi di kota besar, berpendidikan tinggi, lebih paham syariah pula. Sebagai murabbi tentu ia bangga punya binaan berkualitas luar biasa, ia berharap sang binaan dapat membantunya membenarkan apa yang keliru, meluruskan apa yang bengkok, membersihkan yang masih bernoda.

Namun harapan tinggal harapan. Yang kemudian terjadi adalah tiap kali majelis halaqah digelar, binaan tersebut tampil lebih dominan daripada Murabbi, sehingga acap memunculkan ketidakharmonisan dengan binaan lain.

Mendapat pesan itu, saya jadi teringat cerita murabbi saya dulu dengan kisah yang nyaris serupa. Beliau adalah sarjana ilmu agama Islam, jurusan Aqidah di Institut Agama Islam Negeri (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tak berbeda dengan mahasiswa fakultas Ushuluddin lainnya, murabbi saya ini adalah alumni pondok pesantren, dengan penguasaan bahasa Arab dan kemampuan membaca kitab kuning atau turats yang tak diragukan. Dengan kemampuan seperti itu, beliau diterima bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah Islam.

Karena harus pindah rumah, suatu hari beliau punya murabbi baru. Dibanding dirinya yang sarjana ilmu agama dan seorang wartawan, murabbi barunya ini hanya tamatan SMA, bekerja sebagai buruh pabrik, dan tidak pula menguasai ilmu-ilmu syariah. Namun tak ada yang berbeda sama sekali dengan jalannya halaqah, karena beliau paham beginilah jalan dakwah mengajarkan kita: siapapun yang ditunjuk untuk menjadi murabbinya, ia akan taruh ihtiram, mahabbah, dan ketaatan sebagaimana seharusnya. Ia pahami siapa jundi siapa qa’id. Sesekali ia membetulkan tulisan Arab sang murabbi yang keliru, kurang alif dan lam, misalnya, dan seterusnya. Pun, sang murabbi tak merasa tersinggung ketika dibetulkan, dengan kerendahatian ia syukuri punya binaan yang memang lebih paham bahasa Arab.

Dari kasus ini, ada mutiara yang dapat kita petik. Kita perlu garisbawahi bahwa Murabbi adalah pemimpin dalam halaqah, kebanggaan terhadap binaan tidak boleh menjadikan murabbi merasa minder dengan kualitas yang tak sebaik binaan. Halaqah adalah majelis tarbawi, setiap anggota dapat berbagi ilmu dan pandangan-pandangan pribadi, tetapi otoritas mengendalikan halaqah tetap ada pada murabbi. Kondisi tersebut selayaknya menjadikan murabbi terpacu untuk berupaya lebih keras dalam meningkatkan kualitas ilmu dan amal. Setiap kita tak pernah terlalu tua untuk terus belajar.
Sebaliknya bagi binaan, hendaknya tumbuh kesadaran di dalam dirinya bahwa pemahaman terhadap gerakan tak hanya ditentukan oleh ketinggian ilmu syariah semata-mata, tapi juga oleh pengalaman yang lebih panjang. Pun, kebijaksanaan atau hikmah dalam menjalani kehidupan berharakah sejatinya selain erat dengan ilmu pengetahuan, juga oleh usia dalam berjamaah, meski dalam beberapa kasus tentu tak selalu sama.

Tentu tidak semua murabbi memiliki kualitas ilmu syariah yang tinggi, hendaklah kita memahami itu, seraya meyakini bahwa ia terus berbenah tingkatkan kualitas keilmuan dan kedalaman ibadahnya. Jangan sampai, karena memahami kompetensi syariah murabbi yang dirasa kurang, lalu menjadikan kita malas hadir dalam halaqah. Kehadiran kita dalam majelis halaqah adalah karena kita yakin bahwa kita merupakan bagian dari sebuah gerakan yang teratur, dan halaqah adalah basis terkecil dari gerakan besar itu. Jika kita ingin terlibat di dalamnya maka semestinya kita kuatkan komitmen untuk hadir sehingga tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan darinya.

Sekalipun seseorang lebih memiliki wawasan keislaman, lebih memiliki keutamaan di hadapan kaum Muslimin, hendaklah ia pahami bahwa jika keputusan telah diambil dan ia ditempatkan menjadi mutarabbi, hendaklah ia memiliki kerendahatian untuk taat, bahwa murabbi adalah panglima. Kita semua sadari bahwa majelis halaqah bukan semata-mata majelis ilmu, kita bisa peroleh itu dalam majelis lain, seperti kajian tatsqif, mabit, atau jalasah ruhiyah. Bukankah Usamah bin Zaid, yang demikian masih hijau, pernah diperintah Nabi untuk menjadi panglima sementara di antara pasukannya terdapat sahabat-sahabat senior dan pemuka kaum Muhajirin dan Anshar? Tak ada yang menolak dan membangkang dengan perintah Usamah sebagai panglima perang, bahkan pasukan itu, sebagaimana digambarkan oleh Khalid Muhammad Khalid, sukses dan kembali tanpa meninggalkan seorangpun korban.

Demikianlah, kerendahatian para sahabat, yang sekalipun memiliki ilmu lebih tinggi, tapi pemahaman terhadap al-qiyadah wal jundiyah demikian meresap erat, bahwa pada satu masa kita menjadi jundi, dan akan ada masanya menjasi qa’id. Wallahu a’lam.

Jumat, 09 Januari 2015

Cerita PITA Part III: "Mengharu Biru"






Arief menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya, berat. Sudah kali keempat ia melihat Rudi, teman sekelas di kampusnya, membagikan brosur “Rahasia Jalan ke Surga”. Isi brosur itu membuatnya sangat gelisah, karena secara tersembunyi di dalam bulletin tersebut terdapat ajakan ke dalam agama Kristen. Dikutip pula beberapa ayat al-Quran yg dicomot serampangan utk melegitimasi “kebenaran” agama para missionaries  itu. Ini pasti bagian dari kristenisasi! Geramnya dalam hati.

Setelah diskusi kecil dengan kru PITA bada Zhuhur di basecamp tadi siang, Arief and the gank bersepakat utk mendiskusikan masalah ini lebih jauh kepada Ustadz mereka, (kita sambiiiitt…) kak Aguuung  (hore..hore.. tepuk tangan :p)
***


Pengajian hari ini lain dari biasanya. Gemuruh angin disertai hujan lebat seolah membasahi seluruh Ibu Kota hingga ke pelosoknya. Butiran kristal2 cair itu terjun bebas tanpa ampun. Seakan diantara mereka terdapat panglima perang yg berkata: “Serrraaaang Jakartaaa!!! Tak akan kami biarkan satu jengkal tanah pun melainkan kami akan membasahinya dengan tubuh yang kami persembahkan ini!! Serrraaangg!!!

Ck.ck.. imajinasi yang betul2 heroik… (dan memprihatinkan….)

Arief dengan mimik wajah serius menyodorkan bulletin propaganda itu kepada sang ustadz.

“ini masalah serius, untuk urusan akidah kita tidak boleh bermain2!” tegas Agung  membuat PITA  kompak mengepalkan tangannya. “tapi pendekatannya harus dengan cara yang ahsan. Gimana neh ada ide?” lho koq ust.Agung  malah balik nanya sih? 

Seperti biasa, Nashir  ngasih usul yg brilian (ngok), “Mmm..gini aja, dua pekan lagi khan kita mo camping, kita ajak aja Rudi utk anter kita pake mobilnya. Nanti disana kita diskusi utk klarifikasi lebih jauh.”

Wahyu                    : “I’m agree with u, disana langsung aja kita sidang!!”
Henry                      : “kita keprett!”
Anto                        : “tampoll!
Adit                         : “cipoll!”
Haidir                   : “Buang ke Jurang! Mobilnya kita jual! Uangnya utk kas PITA” <<-- et dah!
PITA  ngasih ide serem2 banget..layaknya penjahat kelas teri…

Sigit Coker Cogan  : “ehm..! akhi, tidak boleh begitu, akhii. Sebaiknya kita kasih tausiyah. (bijaksana sekali yg namanya Sigit Coker Cogan. khkhkhkh..)

***

“Bisa nggak?” 
“berapa hari sih campingnya?”
“Cuma satu malem”
“ya udah, ntar aku anter”
Mudah sekali. Rudi bersedia nganter PITA  camping. Hebat juga lobby Arief, atau jangan2… Rudi punya rencana lain?
***

Cornellius Rudi Sulistyo mempersiapkan ranselnya. Buku harian, kamera SLR, kaos olahraga, dan satu pack Gerry Salut kesukaannya. Yup! Beres semua. Oh ya, al-Kitab pemberian Sinta yg paling dicintainya. Sesuai anjuran mama yg pemimpin lagu rohani di gereja Cibinong itu, dengan membawa Bible ia akan merasa lebih tenang. “semoga aku dapat mengajak Arief dan anak2 PITA itu utk menjadi ‘anak-anak tuhan’ amen.” Batinnya.

“Ok, semua dah beres.” Rudi meletakkan ransel Boogie itu dalam Innova-nya. Cukup luas utk sekedar anak PITA yang badannya semua ideal dan tak ada satu pun yang gendut.

“Aku berangkat, ma” pamitnya sambil mencium pipi ibunya, manja.
“Dah sayang, hati2 ya…”
“Dah mama..”

Rudi berangkat dengan semangat. Diulang2nya materi diskusi yg sudah dipersiapkannya semalam utk debat teologis dengan anak2 PITA, juga dengan guru ngaji mereka itu. Mobil itu melaju pelan, “Tuhan, Engkau selalu dalam langkahku. Pujian bagi-Mu”
***

Awalnya gerombolan PITA bingung mau ngadain acara camping dimana.  Selama ini semua agenda2 PITA ga pernah ada yang batal. semua selalu sesuai rencana (wakwaww). Sebagian besar komplotan PITA penginnya ke negara asal masing-masing. Maklum mereka adalah imigran2 luar negeri yang tersesat di Indonesia. Adityo pengen ke Burkina Faso, Marwan dan Muflih ke Samoa, Yunus ke Burundi, Ansor ke Zambia, Yusuf ke Vanuatu, Hakim ke Latvia, Azam ke Samoabisau, Suhud ke Tuvalu, Ucok  ke Zaire, dan Sigit ke Swiss :))

Fatah usul ke Semak Daun, Asep ke Bekasi, Diaz usul ke Baduy Dalam, Angga dan Ilham mengusulkan ke Bali, Fazrin dan Irvan pengen ke Raja Ampat, Bakat dan Ilham Usul ke Bunaken.

Tapi, akhirnya Innova itu pun memasuki gerbang gunung pancar, Babakan Madang, Sentul, Bogor.
Tak ada yg istimewa sepanjang perjalanan. Hanya saja noraknya Wahyu yg selalu kasih komentar ttg segala yg dia lihat, tak tampak lagi disini.(sodara2, ini betul2 istimewa. Wahyu tak tampak norak.. amat istimewa!!!)

Gunung pancar, masih seperti dulu, barisan pohon pinus berdiri kokoh menjulang menggelitiki langit. Pemandangan yg indah. PITA kini terbiasa berdoa bila berhadapan dgn pesona alam. Bahkan Arief sempat memejamkan matanya perlahan, “Rabbana maa khalaqTa hadza bathila, subhanaKa faqina ‘adzabannar..” Duhai Rabb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini sia2 belaka.. Maha Suci Engkau, maka jauhkanlah kami dari siksa neraka…

Acara2 demi acara terangkai. Pasak bumi, latihan grup nasyid NSB (Nasyid Shoutul B*****), pengajian plus tafakkur alam, ratiban.. mandi sore.. ahh segarnya.. sore2 gini duduk2 melihat sunset yg berkilauan merah tembaga di ufuk barat. Burung2 pipit, terbanglah menjauh.kabarkan pada awan, cerita ini.. kata Ebiet G. Ade. Indahnya duduk di bawah pu-un sambil ngupi dan makan pisang gureng.. begitu istimewa.. Alhamdulillah ya Allah..  camera siap menge-shoot gambar2 nan emejing ini..

Ba'da maghrib Rudi udah menyiapkan bahan disuksi dengan kak Agung . Aku pasti bisa mengajak mereka semua ke jalan tuhan. Mereka sangat potensial.. Jiwa missionarisnya meletup2. Dilihatnya PITA  tampak sedang ngobrol2 ringan. Sedang bercanda bersama di samping pos ronda..(pake nada koesploes). Dan seperti biasa, tak boleh dilupakan—sekali lagi tak boleh dilupakan—ngocol, pura2 pinter, kusud, dan songong.. ketawa ga jelas kayak orang ga punya duit..

Namun tidak bagi Arief, dengan ketajaman nalurinya, ia menangkap sesuatu yg tidak biasa dari temannya itu. Arief menghampiri Rudi, lalu duduk mendekat. Dimulailah diskusi itu…

Rudi (selanjutnya disingkat ‘R’) : “kamu sudah baca brosur dariku belum?”

Arief (selanjutnya agar supaya lebih mudah untuk dipahami dan dimengerti, kita juga akan menyingkat daripada namanya agar tidak menghabiskan halaman cerita ini dan tidak bertele-tele. Maka nama daripada Bung Arief akan kita singkat saja agar lebih mudah dimengerti dan dipahami menjadi, ‘NN’ ): “sudah, tapi aku ingin menanyakan sesuatu padamu”

R            : “silahkan” Rudi antusias karena mendapatkan starting point bagi missinya.

NN         : “kenapa dalam brosur yg kamu sebarkan itu bertebaran ayat2 al-Qur’an untuk melegitimasi kebenaran argumentasimu? Apakah tidak cukup penulis brosur itu mengeksplorasi dan mengelaborasi lebih spesifik dengan mengartikulasikan interpretasi2 yg valid dalam Bible saja tanpa membawa2 al-Quran? Pertanyaan Arief begitu intelektual. Sarat dgn bahasa2 langit, macam pengamat politik di TVOne (TV sebelah sorry ya. Udah gw hapus channel-nya bhahaha). Demi mendengarnya, semua kru PITA  terkesima sampe ngiler ketiduran.

R               : “ini utk menguatkan argumentasi kami. Bahwa ternyata al-Quran pun membenarkan agama kami”
NN         : “kenapa utk membenarkan agama kamu, kamu menggunakan dalil dari ayat2 al-Quran? Bukankah al-Quran itu (sebagaimana pemahamanmu) hanya karangan Muhammad saja?

R             : “ya. bagi saya Qur’an itu hanyalah karangan Muhammad.”
NN         : “kalau geitu, berarti tak perlu menggunakan dalil dari Quran dund.. apa gunanya? khan tidak ada given authority-nya kalo gitu.. buat apa berdalil dgn sesuatu yg hanya karangan manusia biasa? Hanya karangan manusia pendusta. Kecuali kalau kamu percaya bahwa Quran itu wahyu Tuhan.”

R               : ‘euh.. maksud saya, saya percaya kalau Quran itu wahyu Tuhan..jadi Quran pun membenarkan agama kami”
NN         : “kalau kamu percaya, berarti kamu harus mengakui kalau Muhammad itu adalah Rasul Tuhan. Karena tidak mungkin Tuhan menurunkan wahyu kecuali pada para utusan-Nya, bukan?

R             : “ya, ya. saya percaya” Rudi mulai grogi diserang oleh Arief seperti itu.
NN         : “kalau begitu, kamu juga harus percaya bahwa Allah itu Maha Esa sebagaimana diucapkan Nabi Muhammad.  Karena tak mungkin Nabi berbohong, dan Tak mungkin Tuhan mengutus Nabi-Nya dari kalangan pembohong.”

R             : “euh.. saya bingung…” Rudi tak habis pikir, persiapan diskusinya selama satu minggu dipatahkan Arief hanya dalam beberapa kalimat saja.. dan itu  justru disebabkan kutipan ayat2 Quran yg sebetulnya bertujuan utk menguatkan dalil mereka.

Sejurus kemudian, Ariefmeminta Rudi membuka Perjanjian Lama, Kitab Kejadian mulai dari pasal I:

Tertulislah disitu kalimat2 tentang awal mula penciptaan alam semesta versi Bible: 

Kejadian Awal Mula Alam Semesta

1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

1:2 Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

1:3 Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.
1:4 Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.
1:5 Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.


1:6 Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.”
1:7 Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian.

1:8 Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.


1:9 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian.

1:10 Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

1:11 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian.

1:12 Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
1:13 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.


1:14 Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,
1:15 dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian.




1:16 Maka Allah menjadikan KEDUA BENDA PENERANG YANG BESAR ITU, YAKNI YANG LEBIH BESAR UNTUK MENGUASAI SIANG DAN YANG LEBIH KECIL UNTUK MENGUASAI MALAM, dan menjadikan juga bintang-bintang.

1:17 Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,
1:18 dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
1:19 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.




Lalu Arief bertanya telak: Bagaimana logikanya matahari diciptakan pada hari keempat? Lalu apa yang dimaksud dengan “jadilah petang jadilah pagi” di hari pertama hingga ketiga jika mataharinya saja baru diciptakan pada hari keempat? Bukankah petang dan pagi itu adalah saat dimana matahari tenggelam dan terbit? apa maksudnya petang dan pagi? 

Apakah kamu masih yakin kalimat keliru semacam ini adalah firman dari Tuhan?

Rudi tertunduk lemas. Kegelisahan hati bertahun lamanya semakin memuncak. Ia menarik nafas.

Menutup diskusi, Arief merekomendasikan beberapa ayat dalam al-Quran utk dibaca Rudi sebelum tidur.

Rudi gemetar membaca ayat yg satu ini, ayat yg menentramkan jiwanya yang selalu dihantui kegelisahan.

“Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa. Dia tempat bergantung segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak pula diperanakan. Dan tak ada satupun yang setara dengan Dia.”

Rudi mengantuk, lalu tertidur, namun dalam telinganya masih terngiang ucapan Arief, “kalau Yesus itu tuhan, mengapa ia menyembah tuhan?” sebuah pertanyaan sederhana yang menggelisahkan…
***

Pukul 03.05 hawa dingin menusuk tulang

Rudi terpaksa harus bangun di pagi buta seperti ini. Isakan tangis PITA  menghalangi matanya utk lelap. Dikuceknya kedua mata yg terasa berat itu, lalu dgn penasaran ia melongok keluar tenda, sedang apa mereka di pagi buta seperti ini?

Dilihatnya dua barisan berdiri tegak menghadap barat. Nauval, calon Mahasiswa Universitas Islam Madinah itu menjadi imam mereka, sebuah pemandangan yg memikat hati Rudi. PITA  khidmat bermunajat pada Tuhannya, dalam selimut gelap malam dan hembusan dingin udara. Didengarnya kembali isakan tangis yg tadi mengganggu tidurnya, kini terasa begitu memilukan.. seolah tangisan hakiki yg keluar dari hati yg ingin suci. Disini, ia melihat sosok2 yg sedang merintih memohon ampunan dosa, linangan airmata membasahi pipi mereka, layaknya mata air yg memancar dari kedua mata yg takut dan tunduk pada keagungan dan ke-Maha-an Tuhan.

Sujud panjang mereka, pasrah. Begitu syahdu.

Pernahkah aku menghadap Tuhan sedemikian rupa? Rudi merinding. Tiba2 ia rasakan dirinya terhempas dan lemah.. lalu ia menangis sesenggukan.. batinnya berguncang hebat,, inikah hidayah itu..? o, Tuhan, tunjukan padaku kebenaran-Mu… doa tersyahdu yg pernah ia panjatkan seumur hidupnya…

Memang, jauh di lubuk hatinya, sudah bertahun-tahun ia menyembunyikan kegelisahan spiritual yang mendalam… oleh karena itulah ia berupaya menjadi missionaries untuk menghilangkan kegelisahan itu..
***

Pukul 07.30 cerah
“Rief, aku ingin masuk Islam.”
Arief terlihat tenang. Basuhan air wudhu untuk Dhuha-nya masih tampak. Lalu ia terseyum lebar, khas Arief. “Alhamdulillah, ayo kita ke Akh Agung ”
“hei, PITA, kumpul! Ada berita indah hari ini”

“Masuk Islam itu mudah, namun menjadi seorang Muslim itu tidak semudah yg kita bayangkan. Ada konsekuensi yg harus dijalani seseorang sebagai Muslim. Sholat lima kali sehari, puasa selama satu Bulan Ramadhan, memilah makanan antara yg halal dan haram, dsb.”

Demikian taushiyyah menjelang prosesi pagi itu..

“Saya sudah siap. Apapun resiko yg akan saya hadapi.” Tegasnya mantap. Tantangan terberat bagi Rudi tentu keluarganya. Bagaimana tidak, ibunya pemimpin lagu rohani di Gereja, dua orang kakaknya semua menjadi pastor. Ayahnya sendiri seorang missionaries. Mereka pasti marah besar seandainya mendengar ia memeluk Islam. Namun Allah lebih kucinta. Ia menarik nafas pelan, lalu membuangnya berat.

“Bertekadlah dengan matang, Rudi.” Fazrin  mencengkeram tangan Rudi utk menguatkan hati.
***

Pukul 10.05 Cerah
Rudi merasa semakin mantap. Duduk diantara pengajian anak2 PITA  ia merasa sejuk. Tiba2 dadanya terasa amat lapang. Matanya terasa segar. Begitu bahagianya, rasanya ia ingin melompat2 utk mengekspresikan keceriaan hatinya.

Semilir angin Gunung Pancar berhembus perlahan. Cerahnya mentari pagi ini seakan mewakili hati Rudi, hangat. Langit yg membiru, nyanyian beburung diantara rindang pohon pinus dan semak belukar. Hamparan pesawahan dalam pandangan mata begitu menakjubkan..

Ust.Agung memulai prosesi, “ikhwati, antum menjadi saksi atas kesaksian saudara baru kita ini. Saksikanlah.” PITA mendengarkan dgn seksama nasihat Kak Agung . Sangat serius..

Agung  membimbing Rudi mengucapkan dua kalimat syahadat, pelan dan tenang. Rudi mengikuti dengan khidmat, kepalanya tertunduk seolah terasa berat.. matanya basah…

“Asyhadu an laa ilaaha illaLlah, wa asyhadu anna Muhammadan RasululLah..aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.. dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah..”

Perlahan Rudi mengikuti ucapan itu, ia menangis dengan air mata yg menyejukan..ia tertunduk..hatinya terasa sejuk.. PITA menghampirinya, namun ditahan oleh ust. Agung  dengan isyarat tangannya. “Saudaraku, selamat datang dalam barisan kaum Muslimin. Kaum yg tidak ada keraguan dalam agamanya, dan dijanjikan Surga oleh Allah.”

Rudi semakin menunduk, lalu menarik nafas, mengehembuskannya, pelan. Arief mendekat, lalu mendekapnya erat. Ia menangis, tak membayangkan sebelumnya bahwa teman lamanya itu akhirnya menjadi seorang Muslim. Benarlah firman Allah.. “barangsiapa diberi-Nya petunjuk, niscaya tak ada yg bias menyesatkannya.”

“Rief, kamu harus bimbing aku, ya!”
“Brebes.. eh beres.. he..he..*^7*&*5)4*%49-09LOIhoUP9n" tawa ga jelas khas Arief.

Satu2 PITA  memeluk Rudi. Begitu mengharukan, menyalaminya, dan memberikan senyuman terbaik bagi saudara baru mereka. Selamat bergabung, Rudi.
***

Jam 11.00
Siap2 pulang, Rudi menyalakan mobilnya dengan tenang. Belum pernah ia merasakan ketentraman hati seperti ini sebelumnya. Sekali lagi, rasanya ingin ia melompat2 utk mengekspresikan kebahagiaan jiwanya. Lalu mengatakan pada setiap orang yg ditemuinya, “Saya Muslim, saya Muslim!” bahagia sekali.

PITA  tentu tak menyangka bahwa hari itu adalah hari terakhir bersama Rudi. 

Menuruni jalan yg curam, turun dengan tajam. Jalanan menjelang siang itu memang masih lembab seperti berembun. Rudi mencoba tetap tenang dan mengendarai mobil itu dengan baik, namun apa daya mobil itu terpeleset ke kanan, dan menerobos masuk ke jurang. 

Allahu Akbar!! Rudi bertakbir!

Mobil jatuh dengan posisi paling tidak aman bagi Rudi.

Allahu Akbar! Allah Maha Besar!

Hening...

Semua mata memandang Rudi dengan nanar.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Arief mendekapnya, sambil terisak. Betapapun ia merasakan sakit pada kakinya.

Ia menangis sesenggukan…
***

Langit gelap. Tak seakrab pagi tadi. Tiupan angin ini pertanda akan membawa hujan lebat. Sebetulnya Arief ingin memandikan jenazah itu, lalu mengkafani dan mensholatkannya… agh!  Dadanya begitu sesak, meski ia tetap beryukur Rudi meninggal setelah bersaksi akan ke-Agungan dan ke-Esaan Allah.. aggh.. Muhammad Rudi Sulistyo.

Namun keluarga Rudi sudah tiba, dengan iringan ambulans dan sejumlah pemuka gereja…
***

 --


Follow me on Twitter @mistersigit

PITA / Komunitas Independen